International Guest Lecture Sebagai Upaya Mahasiswa Memahami Salah Satu Elemen Kunci Ketahanan Pangan

Penguatan atmosfer internasional bagi civitas akademika kembali dilakukan di Jurusan Ilmu Administrasi Bisnis Fisip Unila. Kali ini mahasiswa Administrasi Bisnis Angkatan 2025 berkesempatan mengikuti International Guest Lecture yang mendatangkan dua orang dosen tamu dari University of Seville, Spanyol. Kedua dosen tamu tersebut adalah Prof. Miguel Angel Martin Lopez dan Dr. Christian Dominiguez Exposito. Kuliah tamu internasional ini merupakan kerjasama antara FISIP Unila dengan HARVEST (Higher Education Leadership on Agricultural and Food Rights for Environmental Sustainability). HARVEST adalah proyek kolaboratif yang didanai oleh Uni Eropa melalui skema Erasmus+, bertujuan memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendukung sistem pertanian dan pangan yang adil, hijau, dan berkelanjutan di Asia Tenggara melalui pengembangan pelatihan khusus, micro-courses, micro-credentials, serta students’ innovation hubs.

Kolaborasi lintas disiplin ilmu di program HARVEST ini melibatkan sejumlah universitas dari beberapa negara, antara lain Spanyol, Indonesia, Vietnam, Kamboja, dan Polandia untuk meningkatkan kapasitas akademik dan advokasi keberlanjutan, khususnya dibidang ketahanan pangan dan pertanian. Kuliah tamu internasional ini mengambil topik: Lingking space security and food security, an exploration. Dari sisi ekonomi bisnis pertanian, Prof. Miguel Angel Martin Lopez menjelaskan saat ini dunia sedang mengalami krisis global dalam bentuk krisis pangan, perubahan iklim, dan pandemi. Pemanfaatan teknologi luar angkasa untuk perlindungan benih, inovasi pengiriman-pengamanan benih hingga ke luar angkasa, dan perlindungan sumber daya alam lainnya sangat penting sebagai salah satu upaya untuk meraih ketahanan pangan dan menjamin keberlangsungan hidup manusia. Perlindungan benih ini sangat penting, karena benih merupakan salah satu sumber kehidupan manusia. Ketahanan pangan bukan hanya masalah produksi, tetapi juga berkaitan dengan budaya bercocok tanam, waktu tumbuh kembang, dan distribusi pangan yang berkelanjutan.

Di sisi lain, pemanfaatan data spasial satelit untuk pertanian juga perlu dilakukan, diantaranya untuk pemetaan lahan, pemantauan pertumbuhan, deforestisasi, dan mendeteksi resiko munculnya kekeringan dan hama tanaman. Data satelit yang dihasilkan merupakan data yang berbentuk spasial (berkaitan dengan dengan ruang, lokasi, atau tempat), akurat, real time, dan mencakup wilayah yang lebih luas. Data ini dapat digunakan untuk perencanaan produksi, memprediksi panen, dan distribusi pangan yang lebih tepat, efisien, dan berkelanjutan. Penggunaan data spasial ini merupakan salah satu strategi mencapai ketahanan pangan agar lebih mudah tercapai.

Dari sisi space security, Dr. Christian Dominiguez Exposito menjelaskan bahwa luar angkasa (outer space)dan segala hal yang ada di dalamnya tidak dapat dimiliki dan dieksplorasi secara privat oleh negara tertentu. Semua kekayaan dan sumber daya yang ada di luar angkasa harus dimanfaatkan untuk kepentingan bersama. Negara manapun tidak diperbolehkan, misalnya menempatkan pangkalan militer, uji coba senjata nuklir, sejata pemusnah massal, dan manuver militer lainnya di outer space. Prinsip ini diatur dan bagian dari Outer Space Treaty (1967), yang dipertegas dalam Rescue Agreement (1968), Liability Convention (1972), Registration Convention (1976), dan Moon Agreement (1979). Ketua Jurusan Ilmu Administrasi Bisnis, Dr. Ahmad Rifa’I, S.Sos. M.Si menjelaskan kolaborasi dengan HARVEST ini melibatkan beberapa perguruan tinggi di Asia Tenggara dan Eropa, yaitu University of Seville, Universitas Kristen Indonesia, Universitas Lampung, Dalat University, Vietnam National University of Forestry, Svay Rieng University, Prek Leap National College of Agriculture, dan University of Agriculture in Krakow.